Apa Itu Energi Positif?

4Perbincangan sore itu bersama Bang Rani Badri begitu menyegarkan. Diantara suara bunyi denting piring dan sendok yang beradu di dapur café TRS, Citos, suara celoteh sekelompok remaja di seberang meja dan asap rokok yang mengepul.

Tema sore itu adalah energi.

Berawal dari komentar Bang Rani pada sahabat saya,” Energi loe yang semrawut!”.  Ia pun terperangah kaget. Lalu, bereaksi defensif pada awalnya tapi kemudian penasaran dan bertanya lebih lanjut.  “Kelihatan jelas dari ekspresi muka loe!” tambah Bang Rani memberi ‘sumbangsih’ terbesar pada wajah sahabat saya yang mulai berkerut kebingungan.

Jadi, apa sih sebenarnya energy itu itu?

Energi itu ada energy fisik dan energy gaib. Energi fisik adalah raga kita dan benda-benda yang bisa kita sentuh dan lihat. Sedangkan energi gaib bukan berarti energy ‘makhluk lain’ tapi energy yang tidak terlihat.

Di sekeliling kita ini penuh dengan berbagai macam energy negative dan positif. Energi itu menempel di tubuh kita bahkan ke dinding rumah, barang elektronik, dll. Energi juga bisa bertransmigrasi dari satu tubuh ke tubuh yang lain seperti penyakit menular.

Jika seseorang selalu berpikiran negative, pemarah, senang menilai orang, suka menyindir, mencari keburukan orang atau cepat panic maka ia telah  menciptakan energy negative. Energi negative itu akan menyelimuti tubuhnya. Jika tidak berubah, maka energy itu akan melesak masuk ke dalam ruang dalam tubuhnya. Lalu, apa yang terjadi? Orang seperti ini akan cepat sakit, pusing, demam atau stroke. Ketika energy gaib merangsak masuk dan merusak bagian dalam tubu maka energy fisik pun melemah dan menjadi sakit.

Jika kita melakukan sebaliknya, selalu berpikir positif, tidak pemarah, selalu memberi solusi, tenang menghadapi masalah dll maka wajahnya akan terlihat lebih cerah. Tubuhnya menjadi sehat dan segar. Energi positif pun mengalir menghangatkan semua persendian tubuh.

Bagaimana energi menular?

Energi itu gampang sekali menular! Tinggal pilih, mau energy positif atau negative? Jika ingin positif, berdekatanlah dengan orang-orang yang ber-energi positif. Sebaliknya, jika ingin negative, ya berkumpulah bersama orang negative.

Misalnya, jika kita sedang dalam kondisi full charge positif lalu didatangi oleh teman/rekan kerja yang curhat kesedihan maka kita pun akan terbawa menjadi sedih. Sedih itu adalah energy negative yang menempel pada tubuh. Jika kita tidak segera meng-kontrastnya menjadi positif, maka energy sedih itu akan terbawa kemanapun kita pergi. Efeknya, kita jadi ikut sedih tanpa alasan yang jelas. Atau, lebih parahnya lagi, kesedihan teman itu akan menimpa kita juga jika energy negative terlalu kuat untuk dilepas.

Atau, jika kita pulang dari luar rumah dengan perasaan marah. Maka energy itu akan ikut pula ke dalam rumah. Akibatnya, selain jadi marah-marah ke anak atau pasangan. Energi pun tertular ke orang rumah yang awalnya tenang-tenang saja. Jadi, jangan aneh jika mendadak anak atau pasangan kita menjadi ikut marah-marah. Keadaan rumah jadi negative karena semua penghuninya berubah menjadi pemarah.

Energi negative juga bisa menularkan pada barang-barang di sekeliling kita. Kalau saya lebih sering ‘menularkan’ ke barang elektronik. Nah, ponsel dan laptop adalah barang yang sering menjadi korban.  Saya pernah mengalami saat ponsel, laptop, modem dan tv rusak secara bersamaan. Ponsel yang tidak bisa hidup-lah, laptop yang mendadak terserang virus,  modem yang tidak connect atau TV yang gambarnya menjadi gelap.  Saat itu saya memang sedang terkena energy negative yang sangat kuat menjadi deadline kerjaan.

Itulah mengapa saat kita pulang ke rumah, selalu mengucapkan “Assalamualaikum” (bagi muslim). Itu karena kita harus melepaskan semua energy negative di tubuh. Masuklah ke rumah dengan energy segar dan positif. Tersenyumlah dan tumbuhkan rasa bahagia.

Energi ‘semrawut’ seperti pada sahabat saya itu terlihat dari gayanya berbicara, komentar-komentarnya, cara dia menganalisa sesuatu, air muka-nya, dan masih banyak lagi. Sebenarnya, energy negative itu bukan hanya berasal dari dirinya sendiri. Teman-teman di kantornya atau narasumber yang ia temui pun ikut andil dalam menularkan ‘virus’. Sayangnya ia tidak segera meng-kontrasnya menjadi positif sehingga semua berkumpul di dalam tubuhnya.

“Loe bisa jadi orang hebat dan pemimpin top! Asalkan mau merubah gaya hidup loe aja,” kata Bang Rani menutup perbincangan sore itu.

Positive itu adalah gaya hidup. Gaya hidup adalah pilihan pribadi masing-masing. Jadi, jika ingin semuanya senantiasa selaras, ubahlah gaya hidup negative menjadi positif.

Latihan mengumpulkan energy positif sore itu adalah….menunggu 2 jam bis ke Bogor di halte Poins Square, Lebak Bulus dalam keadaan lapar dan dingin.?

Adenita Yusminovita

Research & Publication
www.soulofspeaking.com

2 Comments

Leave a Comment