Bagaimana Menghadapi “Bad Day”?

 

Sebenarnya ini cerita lima tahun yang lalu. Tapi menjadi salah satu pengalaman yang sulit dilupakan.

Hari itu  saya harus bertemu dengan seorang klien yang ingin menerbitkan sebuah buku. Seorang pengusaha perempuan 50-an yang sukses dan termasuk dalam jajaran orang terkaya Indonesia. Seharusnya saya senang dong ketemu dengan orang yang bisa memberi inspirasi.

Tapi saya malah misah-misuh kesal jauh sebelum hari pertemuan.

Ini sebenarnya bukan pertemuan pertama. Ini adalah pertemuan kedua. Pertemuan pertama memberi kesan buruk. Perempuan ini membuat saya jengah seharian bahkan hingga keesokan hari. Sepanjang pertemuan, dia kerap melemparkan komentar pedasnya, sindirian hingga kata-kata merendahkan.  Pokoknya orang ini luar biasa besar energi negatif-nya hingga mampu ‘menarik’ orang lain untuk ikut marah.

Sejak saya diberitahu akan bertemu lagi dengan orang ini, sejak itulah rasanya mood saya drop.  Saya mulai membayangkan, betapa orang ini akan membuat hari saya buruk. Orang ini akan menguji kesabaran dan memancing amarah saya sepanjang hari. Kemudian, saya memikirkan apa yang harus saya katakan jika ia mulai melempar ‘bola panas’. Saya membuat skenario-skenario sendiri di kepala dan membuat saya capek keesekokan harinya.

Efek itu trus merambat ke semua hal di sekeliling saya. Hari itu menjadi “hari buruk” bahkan sebelum hari itu dimulai. Semua terasa salah hari itu.

Dimulai dari anak saya yang salah mengenakan seragam ke sekolah hingga harus kembali lagi ke rumah. Kartu ATM yang tertinggal dan saya hanya memegang uang pas-pasan ke kantor. Bis yang pelan. Akibatnya saya terlambat 1 jam untuk ke pertemuan itu. Teman-teman yang menunggu pun ikut terkena dampaknya.

Siangnya, perempuan cantik itu pun terkena efek ‘mood domino’ yang saya ciptakan sendiri. Dia mulai melempar ‘mercon’ seperti biasa dan semakin rajin melakukannya sepanjang hari.

Sebenarnya apa sih yang terjadi?

  1. Belief System
    Semua itu disebabkan karena belief system yang tanpa sadar saya tanamkan di dalam kepala sejak semalam sebelum pertemuan. Belief system itu semakin besar dan menjadi menyebarkan energi negative ke semua hal hari itu. Dan, apa yang saya percayai terjadi akhirnya benar-benar terjadi.
    2. Negative people
    Bertemu dengan orang-orang yang membuat tidak nyaman memang tidak dapat dihindari dalam keseharian. Kita akan berhadapan dengan orang yang selalu menolak ide-ide kita, membuat kita marah tanpa alasan atau membenci kita dengan alasan sepele. Semua itu seperti pemantik emosi negatif dan secara manusiawi kita ingin membela diri dan melawan balik.
    3. Peran Disakiti
    Tanpa saya sadar, di dalam diri ada peran disakiti. Peran yang menyebabkan saya menjadi orang yang dengan mudah disakiti orang lain. Peran yang tumbuh menjadi kuat karena saya membiarkan itu terjadi.

Tidak perlu dipikirkan, kenapa?
       1. Menyakiti diri sendiri
Ketika kita menghadapi orang negatif dan kita merespon maka kita telah menyakiti diri sendiri                 dengan membiarkan rasa nyaman di dalam hati terganggu. Menahan marah dan kesal sama saja               dengan minum racun dan mengharapkan orang lain yang mati.

  1. Negatif Cepat Menular
    Saat negatif perasaan dan pikiran menguasai, sekejap itu juga virus negatif menyebar di seluruh tubuh. Mendadak leher sakit, kepala pusing dan badan pegal semua padahal sebelumnya baik-baik saja. Itu yang terjadi di dalam tubuh. Bagaimana dengan ekspresi? Perasaan negatif akan menyebabkan ekspresi negatif. Akibatnya orang-orang yang memang sudah negatif akan menjadi lebih negatif. Pada akhirnya, hari itu akan menjadi hari paling buruk di dunia. Hentikan segera sebelum menyebar.
  2. Ini Masalah Mereka, Bukan Saya!
    Ekspresi mereka adalah apa yang terjadi dalam di diri. Ekspresi marah dan tidak senang adalah cermin dari apa yang mereka rasakan. Mungkin, mereka tidak suka dan bosan dengan kehidupannya atau mereka sedang marah karena orang-orang yang kerap menyakitinya. Kemudian peraasaan itu ‘terlontar’ menjadi ekspresi kemarahan. Jadi itu masalah pribadi mereka, kenapa kita harus pusing memikirkannya?
  1. Buang-buang waktu dan energi
    Sadar nggak saat kita berhadapan dengan orang seperti itu, kita juga sibuk memikirkan bagaimana cara membalasnya? Begitu sibuk hingga kita lupa apa tujuan hari itu. Ketika kita berhasil membalas maka ada perasaan bersalah dalam diri.

 

Apa yang harus dilakukan?
      1. Kontras Perasaan
Ketika perasaan mulai tidak nyaman, ketika marah dan kebencian mulai merasuk. Tarik nafas                    dalam. Pejamkan mata sebentar. Segera pikirkan bahwa semua akan selaras dan diri sendiri                        merasa nyaman. Temukan hal-hal positif dari situasi dan pertemuan dengan orang-orang itu.                    Bukankah semua perisitwa adalah kehendakNya? Dan, semua pertemuan adalah atas izinNya?                 Jadi sudah pasti, semua pasti yang terbaik.

  1. Grateful
    Berterima kasihlah dengan apa yang terjadi hari ini. Bukankah tidak ada satu kejadian dan satu pertemuan pun tanpa seizinNya? Allah selalu memberi kita yang terbaik dan kita hanya perlu lebih teliti melihat pesanNya.
  1. Stay Focus!
    Tetaplah fokus dengan niat pertama bertemu dengan orang itu. Bukan melulu memikirkan diri sendiri yang tersinggung dan kesal. Jika saya lebih fokus bahwa hari itu saya akan menulis sebuah buku hebat dari perempuan hebat dengan narasumber yang luar biasa. Maka, hari saya sudah dipastikan lebih baik dari hari itu.
  1. Take a deep breath
    Pejamkan mata sebentar. Tarik nafas yang dalam. Istirahatkan pikiran dan perasaan kesal untuk sementara. Pikirkan hal yang menyenangkan.
  1. Ambil Positifnya
    Semua sesuatu pasti ada hikmahnya. Salah satu hikmah yang kemudian menjadi olok-olok di kantor hingga beberapa bulan setelahnya adalah : Saya naik mobil seharga 7 Miliar!.

Hari itu tanpa saya sadari ,saya naik mobil mewah edisi terbatas di dunia seharga 7M. Jika saja, hari itu saya lebih bisa mengontrol mood, mungkin saya akan lebih menikmatinya.

Jadi siapa sebenarnya yang rugi hari itu? Saya.

 

Salam Selaras.
Adenita Yusminovita
Research & Publishing Soul of Speaking
www.soulofspeaking.com

IBX58C3A7658A69E

7 Comments

  • Rani Badri Kalianda February 10, 2017 at 2:45 pm

    Hehehehe sambil senyum bacanya

    Reply
    • Adenitayus February 11, 2017 at 10:23 am

      Hehehehe…..5 taun lalu ya bang

      Reply
  • fika February 10, 2017 at 7:38 pm

    Take a deep breath ini memang ngaruh banget bikin relaks, aku sering sih ngelakuinnya kalo lagi BT

    Reply
    • Adenitayus February 11, 2017 at 10:44 am

      Iya bener banget mbak…lebih rileks jadinya. Salam kenal ya mbak…

      Reply
  • Juliana Dewi February 17, 2017 at 9:41 pm

    Salam kenal Mbak Adenita. Terimakasih sudah berkunjung ke blog-ku. Ini link tentang resto rempah Iting, kalau Mbak Ade butuh info lebih banyak.
    http://www.julianadewi.com/2017/01/rempah-iting-kemewahan-rasa-tradisional.html

    salam,
    Juliana Dewi K

    Reply
    • Adenitayus March 12, 2017 at 5:23 am

      Makasih mbak….

      Reply
  • fanny fristhika nila March 26, 2017 at 5:43 pm

    aku jg srg ngalamin ini mba… telanjur mikir yg jelek2 dulu, trs jd merembet semuanya ikutan jelek seharian.. kayak sugesti gitu yaa… Aku juga sadar itu semua malah bakal ngerugiin aku balik… makanya kalo udh nemu hal2 yg aku tau bkl bikin moodku jelek, aku coba berfikir yg lain… yg bikin happy, jd ga fokus ke hal2 jelek itu 😀

    Reply

Leave a Comment