Broken Heart Vs Broken Trust

Mana yang lebih lama sembuhnya?
Saya rasa broken trust membutuhkan waktu yang lebih lama sembuhnya dari broken heart.
Seorang istri yang pernah memergoki suaminya selingkuh, ia tidak hanya patah hati tapi juga kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun hancur lebur. Walaupun permintaan maaf diulang seperti laiknya minum obat 3 kali sehari tapi rasa percaya itu tidak akan pernah kembali utuh.

“Suami gw selingkuh!” kata sahabat saya beberapa waktu lalu. “Dia ketauan sering WA sama cewek laen. Mesra pula…!” Muka sahabat saya jengah.
“Trus? Loe gimana?”
“Dia minta maaf. Tapi terus ketauan lagi. Trus minta maaf lagi. Gitu trus sampai 4 kali.”
“Empat kali? Loe maafin semua?”
“Iyalah. Gue harus gimana? Cerai Cuma gara-gara Whatsapp?”

Saya cuma mengangkat bahu. Saya juga nggak punya pengalaman itu.
Kemarin, sahabat saya ini mengghubungi saya lagi dan cerita kalau suaminya ternyata malah punya dua ponsel. Dia nangis sejadi-jadinya di telepon. Saya hanya bisa menenangkan lewat kata-kata.

Bingung harus apa.

Saya kenal suaminya. Tipe suami ideal, setia dan pekerja keras. Dia bukan tipe suami genit yang suka menggoda perempuan. Saya kenal mereka berdua sejak mereka pacaran, sejak mereka belum punya apa-apa sampai akhirnya memiliki rumah, mobil dan bisa liburan ke luar negeri setiap tahun. Mereka membangun cinta, kepercayaan hingga materi dari nol. Mereka punya cerita bersama.

Mungkin orang lain akan mengatakan sahabat saya bodoh karena berulang kali ketahuan tapi tetap memaafkan. Saya berusaha melihat ini dari sisi lain. Sahabat saya memaafkan bukan hanya karena cinta tapi ada kenangan belasan tahun yang pernah mereka bangun bersama. Ibarat sebuah membaca sebuah buku, sudah baca setengahnya dan sedang seru-serunya ternyata ada yang sobek lalu buku itu dibuang. Nanggung banget kan? Mungkin seperti itu.

“Puber kedua kali ya? Biasanya kan umur 40an, cowok-cowok ngalami puber kedua. Iya gak sih?”

Nah, ini dia. Puber kedua.

Hasil dari googling, puber kedua memang sering dialami oleh pria usia 40an. Tapi secara ilmiah atau secara ilmu kedokteran, puber kedua itu tidak ada. Ada yang bilang itu Cuma fase kejenuhan seorang suami dengan rutinitas atau seorang suami yang butuh sensasi jatuh cinta lagi. Alasan klise memang dan tidak bisa jadi pembenaran.

Kata artikel-artikel yang saya temui, memang intinya harus ada komunikasi. Komunikasi yang baik antara suami dan istri harus baik dan terbuka. “Puber kedua” juga dirasakan oleh perempuan loh dengan alasan yang sama pada para suami yang bosan atau iseng aja.

Saya mencoba memberi masukan dengan bilang daripada fokus ke masalah tentang suami yang selingkuh, fokus saja pada solusi. Ketimbang sahabat saya membuat rumah jadi kayak ‘neraka’ karena dia marah-marah trus. Belum lagi jadi parno tiap kali suami pegang ponsel. Jadi curiga kalau suami terima telepon, padahal itu dari bosnya. Suami meleng dikit, ponselnya dibuka dan dicek bak detektif.
Berdasarkan ceritanya, hubungan belum terlalu jauh, baru sebatas chat di WA. Bahkan mereka belum pernah bertemu muka. Perempuan itu memiliki keluarga dan tinggal di luar negeri. Jadi, kemungkinan hubungan mereka menjadi serius sangat kecil. Itu perkiraan saya.

“Kalau gue sih, gue labrak tuh cewek. Gw telpon trus gw bentak-bentak!” kata sahabat yang lain saat mendengar ceritanya. “Loe punya nomor telepon cewek itu kan? Telepon aja! Kasih pelajaran!”
“Loe mau labrak?” tanya saya sama sahabat yang sedang terluka. Dia tidak menjawab malah nangis .

Saya tahu satu hal. Sahabat saya ini broken heart dan broken trust. Mungkin terpikir buatnya untuk melabrak tapi dia merasa belum waktunya. Karena, masalah dia adalah suaminya bukan sama perempuan itu.

Saya belum tahu kelanjutan ceritanya lagi. Tapi yang pasti, wajahnya sering terlihat sendu. Dia patah hati tapi saya yakin dia kuat dan akan segera melewati badai ini. Hanya saja, saya tidak yakin rasa percaya pada suaminya akan pernah pulih. Akan selalu ada bekas luka di hatinya yang akan selalu diingat. Sebuah noda dalam cerita indah mereka.

Dia bertahan karena cinta. Tapi sampai kapan cinta bisa mempertahankan sebuah cerita?

4 Comments

  • Yeni Sovia May 7, 2017 at 6:35 pm

    Aduh bun sedih bacanya. Semoga sahabat dan anak2nya dikuatkan ya 😥

    Reply
    • Adenitayus May 8, 2017 at 5:52 am

      Iya mbak, terima kasih. InsyaAllah di tegar.

      Reply
  • Nathalia DP May 7, 2017 at 6:42 pm

    Duh, semoga sahabatnya diberi kekuatan 🙁

    Reply
    • Adenitayus May 8, 2017 at 5:53 am

      Iya mbak, makasih ya….

      Reply

Leave a Comment