Cerpen : Kursi Merah Mama

nova

“Kursi ini memang empuk ya. Aku bisa ketiduran jika berbaring.”  Abang mengelus-elus kursi merah milik mama. Lalu, berbaring dan memejamkan mata. Kursi panjang yang terbuat dari kayu jati dengan balutan kain warna merah hati. Kursi yang dibeli beberapa tahun silam. Dibeli  tanpa rencana sebelumnya. Mama lagi jalan ke toko furniture dan langsung jatuh cinta dengan kursi ini.

“Aku hampir tidak pernah duduk di kursi ini. Apalagi setelah pindah rumah,” katanya lagi dengan mata masih terpejam.

“Memang cuma mama yang boleh duduk di kursi itu,” kataku sambil menahan geli. Pikiranku menerawang jauh ke hari pertama mama membeli kursi merah itu. Tentu saja dengan kehebohannya.

Ya, siapa yang tidak ingat hari itu?  Hari saat mama menyuruh kami untuk menggeser-geser furniture lain di ruang keluarga. Agar kursi merah bisa ditempatkan sesuai keinginannya.     Mama ingin ditata malam itu juga. Padahal kami baru pulang kuliah.  Sejak hari itu, kursi itu selalu berada di situ. Tidak pernah berpindah tempat.

Biasanya pagi hari setelah subuh, mama akan baring di situ. Menonton ceramah di televisi sampai terkantuk-kantuk. Teh hangat mengepul di meja kecil di sampingnya. Cemilan kentang goreng lengkap dengan sausnya pun sudah tersedia. Sementara mama menonton, papa berada di ruang kerjanya. Berkutat dengan naskah buku matematika yang sudah bertahun-tahun ia kerjakan.

Kursi merah yang setia menemani mama dan menjai sebuah singgasana kecil di rumah kami. Kursi panjang dengan sanderan kepala yang tinggi dan empuk di ujungnya. Kursi yang dirancang khusus agar penikmat kursi bukan sekedar duduk tapi juga berbaring. Kami menyebutnya kursi Cleopatra. Dan, mama adalah sang Cleopatra pemilik singgasana.

Tidak ada satu pun dari kami, anak-anak, menantu dan cucu bahkah papa sekalipun yang berani untuk duduk di kursi itu jika mama ada di rumah. Jika tidak ada pun, kami begitu berhati-hati agar tidak mengotorinya. Apalagi merubah posisi bantal. Posisi yang sudah diatur sedemikian rupa agar pas di kepala dan punggung mama. Perubahan sekecil apapun akan mama rasakan dan itu akan membuatnya sebal. Sebab ia harus mengaturnya kembali.

“Ada yang duduk di kursi mama tadi?” tanya mama dengan nada kesal. Seolah ada yang merusak harinya hanya karena posisi bantal berubah.

“Aku.”

Mama mendengus kesal.

“Jadi tidak enak nih posisinya,” keluh mama lagi.

“Iya, maaf. Kan tinggal digeser aja.”

Sejak itu, aku tidak mau lagi duduk di situ. Apalagi berbaring dan merubah posisi bantal. Ini tidak termasuk makan di kursi itu, ya. Remah makanan sekecil apapun akan mengundang semut berkerumun. Jika itu terjadi, bersiaplah mendengar mama mengomel. Ia harus membersihkan kursi terlebih dahulu lalu memeriksa apakah masih ada semut yang tertinggal. Repot memang.

Mama memang ratu di rumah. Ia adalah sumber cinta dan  sumber kebahagiaan rumah kami. Papa bilang, jika mama bahagia maka rumah ini pun menjadi bahagia. Papa yang begitu memuja mama meminta kami  untuk menjaga hati mama yang lembut dan mudah rapuh.

“Kalau kalian ingin bahagia, bahagiakan mama,”kata papa yang membuat mama tersipu malu mendengarnya.

Bertahun-tahun rutinitas pagi itu berlangsung. Hingga kerut wajah sendu terpancar di wajahnya. Ia belum terlalu tua waktu itu. Masih 50-an. Tubuhnya semakin kurus dan sering merasa lemas serta ngantuk. Aku pikir usia yang menyebabkan itu tapi ternyata mama terkena diabetes.

“Gula darah mama tinggi,” kata mama sambil membawa selembar kertas hasil cek darah di lab. Mama tidak pernah cek darah sepanjang hidupnya. Jika bukan karena diwajibkan periksa darah sebelum berangkat haji, mungkin tidak akan pernah tahu kalau mama kena diabetes. Itulah pengalaman pertama sekaligus yang tidak terlupakan. Itu terjadi sekitar 12 tahun silam. Sebelum ia pergi selamanya.

Pada lembaran putih itu tertulis angka 400 ml/g pada kolom gula darah dengan huruf  bewarna merah.  Artinya sudah melewati batas  kadar gula darah normal yaitu 70-150 ml/g. Sejak hari itu, semua yang berhubungan makanan dan minuman manis dihilangkan dari rumah. Aku pun ikut ‘puasa’ makan dan minum yang manis.

Tidak hanya makanan manis yang dikurangi. Ada obat rutin yang harus diminum setiap hari. Mama juga semangat mencoba ramuan-ramuan herbal. Dari mulai rebusan air godokan, rebusan daun sirsak, atau rebusan daun salam. Pokoknya semua yang rasanya pahit mama minum. Jika sudah bosan, ia akan menyesap teh manis. Satu teguk saja. Sebagai pengobat rindu pada rasa manis.

Nasi pun sempat diganti dengan nasi merah walau akhirnya kembali ke nasi putih.  Papa bahkan membeli alat pengecek gula darah sendiri agar kadar gula mama dapat dikontrol setiap hari. Mama adalah pejuang diabetes. Dia mampu bertahan menjaga kadar gulanya selama belasan tahun. Tapi kekuatan manusia selalu ada batasnya, bukan? Setelah 12 tahun, daya tahan dan juangnya pun menurun seiring usia yang bertambah. Kursi ini menyaksikan semua transformasi perubahan mama.

“Bawa saja ke rumahmu. Belum ada kursi seperti itu kan di sana?” tawarku pada abang. “Kebanyakan furniture. Pengap jadinya. Kursi sofa yang di depan mau dibawa Bude Nik. Dua lemari besar di ruang tamu juga bawa saja kalau mau.”

Terlalu banyak kursi sofa di rumah ini. Rumah kami tidak besar tapi mama senang dengan furniture besar. Ada dua lemari besar di ruang tamu, kursi tamu besar dari kayu jati, kursi merah mama dan sofa di ruang keluarga belum lagi meja makan di ruang belakang. Aku juga membawa beberapa furniture dari rumah baruku. Rumah yang belum sempat aku tinggali.

“Kamu seperti mau membuang semua kenangan mama di rumah ini.” Abang bangkit dari baringnya dan duduk merenung. Entahlah apa yang dipikirkannya. Tapi aku yang tinggal di sini dan semua benda di rumah ini mengingatkanku pada mama. Bahkan pot bunga rusak di halaman pun mengingatkanku pada mama. Menyedihkan dan menyakitkan.

“Bukan itu, aku hanya tidak senang terlalu banyak barang.” Alasan itu benar tapi aku hanya ingin mengurangi beban ‘sakit’ kehilangannya.

Abang menghela nafas panjang.

“Sudah dua minggu mama pergi. Baunya masih ada di kursi ini.” Abang menyesap kenangan mama di kursi itu. Membiarkan aroma kenangan menyelesak masuk ke dalam pikiran dan tubuhnya. “Kursi ini tempatnya ya di rumah ini, bukan di rumahku. Jadi biarkan saja di sini,” lanjutnya dengan mata berair. Ia pun berdiri dan pergi bergabung dengan para sepupu di teras. Hari ini ada acara 40 harian mama di rumah.

Giliran aku yang duduk di kursi itu. Aku menghela nafas panjang. Menyapu pandangan ke semua sudut di rumah ini. Kursi ini memiliki cerita sendiri. Kursi ini berbeda dengan furniture lain di rumah ini.Ia menjadi saksi bisu atas banyak sekali perisitwa. Mulai dari mama yang masih sehat dan bugar tertidur di situ. Hingga mama yang tidak berdaya.

Saat itu, mama semakin jarang berativitas. Sering mengeluh kakinya sakit dan lemas. Ia juga sering bilang merasa cepat ngantuk. Kaki mama pun melemah. Merambat dari ujung kaki hingga akhirnya ia benar-benar tidak dapat menggerakkan semua anggota tubuhnya.

Aku menyalahkan  diabetes  atas semua perubahan itu. Padahal mama selalu aktif bergerak. Setiap pagi ada saja yang harus ia kerjakan. Ia juga aktif di lingkungan rumah bersama ibu-ibu. Semua itu tidak lagi bisa ia lakukan. Dan, ia menjadi frustasi dan cepat marah.

Diabetes memang seperti benalu yang menetap di tubuh penderita tanpa berniat untuk keluar. Penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Obat apapun hanya bisa men-stabilkan kadarnya bukan menghilangkannya. Kasihan mama.

Kami seperti penonton bagaimana kondisi mama semakin turun setiap hari. Apalagi setelah terkena stroke ringan karena kadar gula tiba-tiba turun drastis. Mama sempat tidak sadarkan diri dan dirawat selama seminggu. Sejak itulah, mama hanya bisa diam di tempat tidur atau di kursi merah. Hanya berbaring. Siapa yang tidak frustasi jika harus terus berbaring sementara orang sekitarnya tetap aktif bergerak?

Semakin mama frustasi, semakin ia menjadi pemarah. Tugas menjaga perasaan mama seperti tugas seorang tentara di medan perang. Tugas yang semula mudah mejadi lebih sulit dan penuh tantangan. Mama memiliki sifat keras kepala yang luar biasa. Perasaanya mudah goyah mengikuti angin bertiup. Ia bisa sangat bahagia di pagi hari dan mendadak menjadi sangat pemarah di siang hari. Jika sudah begini, semua bisa kena semprot amarah mama. Bahkan si kecil Sabrina yang biasanya menjadi cucu kesayangan pun, bisa terkena dampaknya. Aku pun memilih untuk diam dalam kamar. Dan, tugas papa-lah yang menenangkan mama agar bahagia kembali.

Aku dan mama memiliki hubungan yang unik. Jika tidak bisa disebut aneh. Salah satu persamaan sifat kami adalah cepat marah. Jika dalam permainan bola, mama adalah penyerang dan aku yang bertahan. Mama memiliki kemampuan jitu untuk ‘menyerang’ siapapun yang membuat hatinya gundah.

Dari kursi merahnya itu, ia bisa melontarkan amarahnya padaku. Hal sepele seperti menaruh tas kerja di ruang tamu bisa menjadi sebuah permasalahan besar. Dan, biasanya akan berakhir dengan keributan kecil. Aku bertahan dan mama terus menyerang tanpa ampun. Sepertinya mama dikirim Tuhan untuk menguji kesabaran anak-anaknya.

Aku bukan tidak menyayangi mama. Tapi aku tidak tahan dengan omelannya. Kami pun bukan sepasang musuh yang kerap kali berkelahi. Mama tidak pandai mengungkapkan perasaanya selain dengan amarah. Sementara aku begitu ingin membela diri dari luapan marah mama. Hingga lupa bagaimana memahami mama. Lupa bahwa mama hanya rindu padaku.

Sekarang, semua keributan kecil seperti tidak ada artinya. Tergantikan dengan perasaan menyesal yang mendalam. Seandainya aku bisa lebih sabar dan tidak egois, mungkin mama akan lebih bahagia saat itu.

Aku memang berhenti bekerja karena terlalu sering bolos. Papa kelelahan mengurus mama sendirian di rumah. Apalagi jika mama sudah marah dan bosan karena berbaring terus. Keputusan yang tepat adalah berhenti bekerja. Walaupun pada akhirnya keadaan keuanganku menjadi sedikit berantakan.

Setelah mama pergi pada Sang Maha.  Baru kali inilaha ku benar-benar duduk di kursi merah ini. Disinilah mama menghabiskan waktu seharian. Menelan bosan. Menunggu maut. Melupakan bahagia. Memutahkan amarah.

Rumah sudah mulai ramai oleh keluarga. Acara 40 harian mama akan segera dilaksanakan. Aku masih duduk melamun di kursi merah mama. Banyak orang lalu lalang tanpa menghiraukan kehadirannya. Mereka sibuk masing-masing. Tanpa sedikitpun menghiraukan keberadaanku

Begitulah perasaan mama saat hanya bisa terbaring di kursi ini? Sementara aku hanya mondar mandir di depannya tanpa menyapanya? Tidak aneh jika mama marah. Ia hanya rindu padanya dan ingin ditemani.

“De, tamu sudah datang. Nggak mau masuk ke dalam? Pengajian buat mama udah mau dimulai,” kata abangku.

Aku mengelus kursi merah itu lagi. Benar kata abang, kursi ini seharusnya ada di rumah ini, bukan di rumah lain bahkan bukan di ruangan lain. Kursi ini ada di ruang keluarga. Begitulah memang seharusnya.

Biarkan kursi ini tetap menyaksikan kehidupanku sekarang.

Untuk  Mama Yusmiati Djs (1948 – 2013)

No Comments

Leave a Comment