Mendadak Jadi Guru TK

Semua bayi dilahirkan cerdas. Tetapi  9.999 dari 10.000 bayi dijadikan tidak cerdas oleh orang-orang dewasa dengan begitu cepat dan sembrono – Buckminster Fuller  (Stephen R .Covey)

Awalnya sih terlintas di pikiran saya, apa sih yang udah saya perbuat pada negara ini? Kesannya nasionalisme banget ya? Tapi saya bener-bener jadi mikir soal ini. Mungkin karena nasionalisme saya sedang teruji di negara ini. Saya jadi ingin memberi kontribusi untuk membuktikan saya cinta Indonesia.

Semua itu terjawab saat saya hadir di acara kelulusan anak-anak di TK.Cikal Cahaya.

Pada awalnya tahun lalu, saat sahabat saya, Nina bilang : “Gw mau bikin TK”.  Berhubung saya memang selalu jatuh cinta sama anak-anak, reflek saya jawab : “Yuk, gw ikut gabung deh.”

Mendadak Jadi Guru TK 

Beberapa bulan setelah itu, saya terlibat dalam start up sekolah.  Saya mulai ikut merancang program, kurikulum, buku dan kalender kegiatan. Mendadak saya ‘nyemplung’ di dunia pendidikan. Seperti masuk ke dunia baru, saya menikmatinya sebagai tantangan.

Oya, Nina itu teman saya sejak SMP. Sejak masih culun-culun sampai sama-sama punya anak ABG.

Anyway, akhirnya tiba hari pertama sekolah. Ada 30  murid baru masuk ke TK. Itu artinya ada 30 pasang orang tua dan (kurang lebih) 60 pasang kakek-nenek plus keluarga besar yang mempercayai anak mereka di sekolah kami. Deg-deg-an? Iyalah!

Ini anak orang yang kita didik. Amanah terbesar dalam hidup saya. Tanggung jawabnya bukan cuma sama orang tua dan kakek nenek mereka tapi juga sama Sang Maha.

Hari pertama,  terjadi kehebohan. Anak-anak masih malu, takut malah ada yang nangis. Tapi ‘show must goes on’ sesuai rencana. Anak-anak dikumpulkan di halaman untuk mengenalkan rutinitas pagi. Mulai dari mengucapkan doa belajar, mengucapkan yel sekolah, mengucapkan ikrar sekolah trus doa untuk wudhu. Setelah itu mereka, digiring mengambil wudhu dan shalat duha.

Saat itu saya bilang pada  Nina. “Kebanyakan rutinitasnya.  Mana bisa anak-anak hapal semuanya. Lagian mereka pasti bosan.”

Maklum, modal saya di TK ini cuma rasa cinta plus pengalaman ngegedein anak sendiri. Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, gak ada satu pun tentang gimana cara ngedidik anak TK. Jadi saya memang lebih terbiasa ngadepin orang dewasa ketimbang 30 anak-anak.

“Pasti bisa!” kata Nina.  Saya percaya aja karena memang pendidikan dan pengalaman dia adalah guru.

Saat itu, saya melihat anak-anak yang susah fokus plus nangis dan drama lain saat berpisah dengan orang tua.  Jadi nggak kebayang gimana mereka bisa menyerap semua rutinitas itu.

Perubahan Pun Terjadi 

Ternyata cukup mengejutkan.  Setelah 2-3 bulan, anak-anak itu mulai terbiasa dengan rutinitas pagi. Mereka hapal semua lagu, doa, ikrar dan bacaan shalat. Saya takjub.

Seiring waktu, saya nggak bisa datang tiap hari karena saya masih bekerja di Jakarta dan pekerjaan lain dengan deadline yang ‘sadis’. Jadi progress anak-anak cukup saya nikmati dari foto-foto di FB dan cerita Nina. Saya semakin takjub gimana anak-anak itu banyak berubah. Mereka lebih mandiri, lebih kreatif, lebih berani dan pastinya lebih penyayang.

Kalau rindu, saya datang ke sekolah. Atau, ikut dalam salah satu kegiatan luar sekolah mereka. Perubahan begitu jelas kerasa. Mereka lebih ekspresif, lebih berani, lebih mandiri dan lebih cerdas.  Luar biasa sekali.

Setahun berlalu. Nggak terasa. Tiba-tiba, Nina bilang “loe datang ya ke acara perpisahan. Loe kan Wakasek!”.

Udah perpisahan? Anak-anak itu lulus TK?

Times flies so fast.

Graduation Day

Saya hadir pastinya dan terharu melihat mereka menari, bermain drama, membaca puisi, main band, menyanyi  atau pidato singkat dengan bahasa Inggris.

Susah saya bayangkan bahwa hari pertama sekolah, mereka begitu malu, takut, nangis atau manja sama guru-guru. Hari itu, mereka membuktikan bahwa mereka siap melanjutkan ke SD. Saya pun menangis haru.

Saya luar biasa kagum. Kagum dengan guru-gurunya dan kagum dengan anak-anak itu.

Anak yang dulu menangis di hari pertama sekolah. Anak yang susah fokus. Anak yang bahkan terlihat bosan dengan rutinitas. Ternyata mereka dengan percaya dirinya tampil di panggung.

Luar biasa banget.

Saat itulah saya sadar bahwa, ”I am a part of something bigger.

Selama ini saya hanya melihat perubahan pada Ghea. Ketika Ghea tumbuh jadi anak remaja yang baik dan cerdas. Saya merasa hanya itulah tugas saya. Tapi ternyata, tugas saya sebagai orang tua dan orang dewasa tidak hanya mendidik Ghea tapi juga semua anak-anak pada umumnya.

Sang Maha memberi kesempatan itu saat saya diajak gabung di TK Cikal Cahaya. So, I feel honoured and thankfull. “Thank you, Nina!” 

Iya, anak-anak ini adalah generasi masa depan. Di tangan merekalah negara ini berada.  Mungkin dua puluh atau tiga puluh tahun lagu mereka akan menjadi orang penting, orang sukses, mungkin jadi pemimpin dunia.  Dan, saya merasa telah memberi  kontribusi untuk membuat fondasi karakter mereka. Walaupun kontribusi saya hanya setetes air, tapi ada perasaan bahagia. “I am doing something for this country.

 

 

 

 

 

 

 

8 Comments

  • Riyanti vitriyana June 4, 2017 at 4:42 pm

    Speechless..

    I know i can count on you when i asked you to be with me develop something useful for children..

    Thank you adeee…

    Reply
    • Adenitayus June 4, 2017 at 8:42 pm

      Thank u to u too besties *huug*

      Reply
  • Anggarani Ahliah Citra June 4, 2017 at 5:01 pm

    aku pernah ngajar TPA, Mba. Seruu… mending ngajar yg kecil-kecil gini daripada yg remaja. Lebih susah sOalnya

    Reply
    • Adenitayus June 4, 2017 at 8:52 pm

      Hahaha…kalau yg gede2 udah bisa protes ya mbak.

      Reply
  • Dzulkhulaifah June 4, 2017 at 5:30 pm

    Aku jadi ikut terharu pas bagian perpisahan TK. Rasanya pasti bangga ya mbak… Selamat yaa.

    Reply
    • Adenitayus June 4, 2017 at 8:46 pm

      Makasih mbak.

      Reply
  • Winda Carmelita June 4, 2017 at 5:32 pm

    Jadi guru TK itu memang mulia ya Mbak. Di mana lagi ada jenjang pendidikan yang gurunya bisa jadi pengajar, pendidik sekaligus orang tua. Kata temanku yang juga jadi guru TK, “Jangan lupa, jadi baby sitter sekalian.” Tapi menurutku pekerjaan jadi guru TK itu benar-benar
    ‘berat’ tanggungjawabnya karena ikut membentuk pribadi seorang manusia 🙂

    Reply
    • Adenitayus June 4, 2017 at 8:44 pm

      Iya bener, baru kerasa pas ngejalanin sendiri mbak.

      Reply

Leave a Comment