Otak Tidak Pernah Capek

datuk“Otak itu tidak pernah capek, yg capek itu badan kamu! Berhenti mengeluh,” kata papa saat saya mengeluh capek belajar untuk ujian SMA.

Bagi saya, jika pria-pria lain berotot kekar di bagian lengan atau
perut, maka papa berotot ‘sickpack’

 di otaknya. Ia adalah pemikir bak filsuf-filsuf di zaman Yunani kuno. Kata-kata yang keluar darinya selalu dapat menyentuh hati kami, anak-anaknya.“Otak nggak kenal usia. Kamu masih bisa mikir sampai tua asal tetap ‘dilatih’ mikir sepanjang hari.” Katanya lagi.Dulu saat kecil, saya pikir, papa nggak pernah tidur. Soalnya saat malam hari, papa sedang mengetik dengan mesin tik. Saat saya terbangun tengah malam, suara ‘tak-tik-tak-tik’ mesin tik masih terdengar nyaring. Ketika saya bangun subuh pun, papa masih juga mengetik. Begitu terus setiap malam. Dari hasil ketikannya itu papa menghasilnya banyak cerpen, artikel ilmiah dan buku-buku.

Kecintaan papa pada matematika, tidak pernah pudar. Perjuangannya atas teori matematika masih berlanjut hingga ada orang yang mau mendengarnya. Saya tahu benar, papa tidak pernah berhenti memikirkan matematika. Saat ia sedang menunggu makanan datang di restaurant pun, ia akan mengambil tissue dan mulai menulis angka-angka di sana. “Ide yang datang tiba-tiba itu ‘hadiah’ dari Allah. Harus segera dicatat atau nanti lupa,” katanya.

Hari ini, papa genap 68 tahun. Semangat menulis, bekarya dan memberi tahu dunia soal temuan matematika-nya tidak pernah berhenti hingga detik ini.

Selamat ulang tahun papa Yusmichad Yusdja. Semoga selalu sehat dan bahagia.
Kami anak, menantu, dan cucu selalu sayang dan cinta papa/datuk.

No Comments

Leave a Comment