Punya Sahabat Itu Kayak Pacaran

Betul nggak sih?

Punya sahabat itu ibarat punya pacar. Bedanya cuma nggak ngomongin soal pernikahan aja. Kecuali kalau status sahabat berubah jadi pacar ya.

Saya tipe yang menjaga dengan baik silahturahmi dengan teman-teman lama. Waktu belum ada BB atau WA, saya suka iseng telepon/sms mereka. Sekarang sih lebih gampang, nggak cuma ada WA tapi social media juga komplit.

Teman Di Kala Susah Se-Susah-Susahnya (4S)

Sebenarnya kesetiaan seseorang teman itu udah bisa dideteksi sejak dini saat saya sedang susah dalam skala normal. Salah satu cara pembuktian teman itu adalah saat saya lagi susah-susahnya. Sesusah apa?

Memang ada susah skala normal? Ada!

Susah skala normal versi saya itu misalnya saya lagi di butuh tumpangan karena hujan. Trus teman saya bersedia memutar jalan agak jauh demi menjemput. Atau, saya lagi terjebak macet pulang dari kantor dan nggak ada yang jemput anak di tempat kursus.

Nah, saya baru menyimpulkan bahwa kesusahan selama 40 tahun hidup di dunia itu tidak ada apa-apanya saat saya kehilangan orang tua dalam 1 tahun yang sama dan hanya berjarak 5 bulan saja. Di saat bersamaan saya sedang tidak punya pekerjaan tetap, tabungan menipis dan pengeluaran besar untuk rumah sakit.

Itu yang menurut saya susah se-susah-susahnya (4S).

Ibaratnya nih lagi hujan deres pakai petir, jatoh kecemplung di selokan, kesiram air mobil yang lewat trus ketemu cowok yang lagi ditaksir. Bayangkan kejadian ini lalu dikali 10. Begitulah susah se-susah-susahnya versi saya.

Saat itu, saya ingat banget ada beberapa teman memberi support mental, fisik, dan materi tanpa bosan, tanpa mengeluh, tanpa menghakmimi dan yang paling penting tanpa menasihati tetapi memberi motivasi. Percayalah saat kita berada di dasar jurang, hal yang kita butuhkan adalah solusi dan motivasi.

Sekarang kalau melihat ke belakang, saya jadi tahu siapa saja teman yang stay dengan saya saat itu. Yang selalu ngasih support walaupun hanya lewat telepon. Yang ‘mengangkat’ saya untuk kembali berdiri dengan kepala tegak.  Yang membantu saya menyusun kembali puzzle-puzzle diri yang tersebar.

Ketika susah, nafas saja sesak. Keberadaan sahabat seperti oksigen pada paru-paru yang kembang kempis memompa udara.

 

Sahabat Se-Frekuensi

Sahabat se-frekuensi itu adalah orang-orang yang memiliki satu frekuensi dengan kita. Biasanya kalau frekuensi sama, walaupun baru ketemu udah langsung nyambung. Pernah kan ngerasain gitu?

Saya punya sahabat dari sejak kuliah namanya Desi. Dulu, saya bisa seharian duduk di Taman Koleksi IPB cuma buat ngobrol ngalor ngidul. Nggak pernah kehabisan topik. Selalu ada aja yang bisa dibahas. Dulu hampir tiap hari ketemu atau minimal ngobrol di telepon. Setelah nikah dan punya anak, masing-masing sibuk. Apalagi dia tinggal di ujung Jakarta sana dan saya di Bogor. Terakhir ketemu 2-3 tahun yang lalu, itu pun cuma 5 menit.

Tapi yang namanya satu frekuensi, walaupun jarang ketemu dan jarang kontak lagi kayak dulu. Kalau udah ngobrol, masih tetep nyambung dan gak akan pernah kehabisan topik. Kayak baru kemarin aja ketemu. Bisa tetep cerita soal kerjaan, soal temen, rumah tangga atau politik.

Ada juga sahabat-sahabat baru di kantor Soul of Speaking. Jarang ketemu, jarang ngobrol tapi tetap kompak dan tetap terasa dekat di hati.

Atau, teman-teman sekolah dulu. Kalau satu frekuensi walaupun sudah hilang kontak belasan tahun tapi akan kumpul juga pada akhirnya. Ada aja cara untuk ketemu walaupun kadang alam semesta memisahkan saya dan mereka dengan jarak dan waktu.

Magnet Sahabat

Sebelumnya tentang frekuensi sekarang tentang magnet. Bukan, ini bukan lagi belajar fisika. Selain frekuensi, diri kita ibarat magnet loh. Magnet itu tidak akan pernah menarik partikel yang beda. Diri kita pun begitu. Orang yang datang ke kita itu sebenarnya ‘tarikan’ magnet diri kita sendiri.

Misalnya, ada teman yang kalau datang selalu penuh keluhan dan marah. Keluhan tentang hidupnya dan marah karena semua hal. Jadi, teman saya yang satu ini, bisa marah-marah sepanjang jalan sama saya. Marah dengan motor di jalan, marah dengan pelayan yang mengantar makanan, marah sama orang di parkiran bahkan orang lagi diam saja dia bisa ikut kesal.

Mungkin teman saya yang satu ini mempresentasikan diri saya yang kadang suka marah-marah nggak jelas terutama kalau lagi bad mood.

Jadi saya merubah diri saya sendiri. Biar yang datang pada saya adalah orang-orang yang bisa membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Saya mengurangi sifat-sifat pemarah, mengurangi menunda-nunda pekerjaan. Maka yang datang pada saya adalah teman-teman yang suka kerja keras, senang membaca peluang atau senang bisnis baru.

Jadi ungkapan kalau ingin mengenal seseorang, kenalilah teman-temannya itu bener banget.

 

3 Comments

  • Intan Ambara May 4, 2017 at 5:04 pm

    Kapan ya sahabat-sahabat sefrekuensi saya datang?

    Reply
    • Adenitayus May 5, 2017 at 5:43 am

      Nunggu sahabat se-frekuensi itu kayak nunggu jodoh emang mbak, susah2 gampang. Tapi kalau punya harus bener2 dirawat. Thanks udah visit yaa…

      Reply
  • Broken Heart Vs Broken Trust | Adenita-LoveIsBlue May 7, 2017 at 4:12 pm

    […] cuma mengangkat bahu. Saya juga nggak punya pengalaman itu. Kemarin, sahabat saya ini mengghubungi saya lagi dan cerita kalau suaminya ternyata malah punya dua ponsel. Dia […]

    Reply

Leave a Comment