[REVIEW FILM] “HEREDITARY” – NGGAK BIKIN TAKUT, TAPI BIKIN STRESS

Film ini digadang-gadang sebagai film paling menakutkan tahun 2018 setelah premier di Sundance Juni lalu. Betul gak?

Saya bukan penggemar film horror tapi gegara disebut film paling nakutin, saya jadi penasaran. Sempat liat trailernya dulu sebelum berangkat supaya ada persiapan takut nanti. Untung nonton bareng 2 ABG yang gagah berani, jadi agak sedikit menghibur.

Dari awal film ini sudah terasa aura dark, gloomy, depresi, dan sedih. Lighting yang agak mendung dan berasa depresinya. Di sini aja, kita langsung tahu kalau film ini film horror.

Adegan pertama menampilkan Steve (Gabriel Byrne), sang ayah yang membangunkan anak-anaknya Peter (Alex Wolff) dan Charlie (Milly Shapiro) untuk berangkat ke pemakaman nenek mereka. Sementara ibu mereka, Annie (Toni Collete) sudah menunggu di mobil dan melamun.

Tokoh-tokoh di film ini memiliki karakter yang kuat dan ekspresi muka uang juara banget. Kita jadi terbawa dengan emosi dari masing-masing tokoh. Itu yang buat film ini jadi keren.

Sebut saja Toni Collete sebagai tokoh utama yang pernah menyabet banyak penghargaan seperti Emmy Awards dan Golden Globe Awards. Dia juga dikenal dalam perannya di film The Sixth Sense dan Little Miss Sunshine.  

Peran Annie cocok banget dimainkan Collete. Ekspresi mukanya bisa sangat dramatis dan bikin film jadi lebih menegangkan.

Di film ini Annie adalah  seniman diorama/miniatur, ia mengekspresikan kegelisahannya dengan membuat diorama penggalan kisahnya sendiri. Salah satunya adalah bayangan ibunya yang berdiri di depan pintu kamar tidurnya. Serem banget

Karakter paling stabil dan paling ‘normal’  adalah Steve yang sepanjang film berjuang keras menyatukan keluarganya terutama saat menghadapi istrinya sendiri.

Peter digambarkan seperti anak remaja pada umumnya aja. Di awal film, penonton digiring untuk mengira Peter tidak akan terlalu banyak berperan dalam film. Tapi justru dia memegang peran penting.

Sementara Charlie, remaja 13 tahun yang agak aneh. Dia sering tidur di rumah pohon dan sering diam sambil makan cokelat. Tapi yang bikin serem, adalah kalau dia sedang berdecak tanpa alasan. Bikin tambah serem saat  dia memotong kepala burung yang mati. Shapiro berakting total!

Sesuai judulnya, film ini menceritakan soal keluarga yang dikutuk turun temurun sebagai pengabdi setan. Film ini agak susah ditebak jalan ceritanya jadi penonton mau nggak mau harus mantengin trus sampai akhir. Ari Aster, sang sutradara sekaligus penulis skrip memberikan banyak kejutan-kejutan sepanjang film.

Salah satu kejutan yang buat saya teriak adalah adegan saat kepala Charlie terhantam tiang listrik dan putus. Di awal saya pikir Charlie bakalan jadi tokoh horror-nya jadi kaget banget pas mati. Fokus pun beralih ke Peter.

Peralihan fokus penonton ke Peter dijembatani dengan scene saat Peter menyadari kalau gara-gara dialah kepala adiknya terhantam tiang listrik. Awalnya penonton dibuat ikut tegang saat Peter ngebut menuju rumah sakit karena Charlie sesak nafas. Suara mobil ngebut, Charlie yang teriak kesakitan dan Peter yang berusaha menenangkan.

Kehebohan itu mendadak hilang dan suasana di mobil jadi hening.  Di sini psikologis penonton dibuat tegang dan bingung apa yang terjadi.

Keheningan yang mencekam. Ekspresi Peter di close-up sehingga kita bisa ikut ngerasaain  takut, sedih, nyesel sama bingung. Di sini Wolf mainnya kereeeeeen! Ekspresinya itu juara banget. Menurut saya sih patut jadi nominasi Oscar. Dari semua adegan, adegan satu ini yang buat saya kagum.

Sejak itu, suasana rumah semakin menjadi lebih gloomy dan depresi dari sebelumnya.

Cerita selanjutnya adalah pertemuan Annie dengan Joan yang ternyata pengikut aliran setan bareng ibunya Annie.  Peter yang merasa dihantui Charlie  di sekolah dan sering mendengar suara decakan khas Charlie dimana-mana. Steve yang berusaha membuat keluarganya tetap normal dan akhirnya tumbang juga saat melihat Peter kerasukan dan memukul kepalanya sendiri ke meja.

Puncaknya adalah saat Annie memanggil roh Charlie dengan memaksa Peter dan Steve untuk menemani. Steve yang menolak keras akhirnya mau juga karena Annie memohon dan memaksa. Lalu, Annie yang malah kerasukan roh-nya Charlie.

Dari awal sampai akhir, penonton memang dibuat depresi dengan lighting, permainan musik yang bikin suasana tambah tegang, ekspresi muka pemain yang luar biasa.

Hanya sayang aja, bagi saya ending-nya malah ngerusak. Mungkin sebenernya Aster ingin membuat kesimpulan keseluruhan film di ending. Saat roh Charlie masuk ke dalam tubuh Peter lalu kemudian ada pengikut-pengikut setan termasuk si Joan dan Annie (yang kepalanya sudah terputus). Lalu ada beberapa pria yang setengah telanjang (entah kenapa harus telanjang) ikut menyembah Peter dan Paimon (raja setan). Dan yang paling sedih, Steve akhirnya mati terbakar.

Patut diakui film ini memang beda dari film horror lainnya. Nggak ada hantu-hantu tapi penonton dibuat depresi dan tegang sepanjang film. Jadi mungkin bisa disebut film horror-thriller.

 

Score :****

 

 

No Comments

Leave a Comment